Bagikan Genset Gratis, Caleg Dari Bantul Diduga Lakukan Money Politic

Ada banyak cara memang yang dilakukan para calon legislatif untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat. Mulai dari giat blusukan ke kampung-kampung dan pasar tradisional, memperbanyak spanduk dan baliho raksasa, sampai dengan memberikan sumbangan kepada warga. Sayangnya, kegiatan yang terakhir tersebut ternyata banyak diwarnai dengan money politic yang jelas melanggar aturan dari Badang Pengawas Pemilu atau Bawaslu. Tak sedikit caleg yang menggelontorkan dana segar untuk memberikan sesuatu kepada para pendukungnya dengan embel-embel harus memilih mereka ketika Pemilu.

Hal ini juga yang terjadi di Bantul. Salah seorang caleg diketahui memberikan dua buah genset kepada warga yang ada di Dusun Semail, Sewon, Bantul. Pemberian genset ini dianggap melanggar kode etik kampanye yaitu tidak boleh memberikan sesuatu yang berbentu materi. Bawaslu sendiri menuturkan akan melakukan penyelidikan selama 14 hari untuk mengetahui tindakan selanjutnya yang harus dikenakan pada caleg tersebut.

Setelah penyelidikan selama 14 hari, nantinya hasil yang diperoleh akan langsung dilaporkan ke Pihak Kepolisian. Jika memang ditemukan tindak pelanggaran, maka bisa dipastikan caleg tersebut akan menjalani gelar perkara di Kejaksaan. Salah satu hal yang memberatkan caleg tersebut adalah karena genset yang diberikan tidak melalui acara yang resmi. Dikatakan bahwa genset tersebut diberikan secara pribadi karena diikuti dengan promosi caleg terkait. Hal itu diketahui karena sang caleg dan timnya ternyata juga mengimbau warga untuk memilih nama dan nomor urut dari caleg tersebut.

Di saat yang bersamaan, ditemukan juga stiker dan brosur dari caleg terkait sehingga dianggap hal tersebut sudah mengarah kepada kampanye. Kalau semua bukti terkumpul dan bisa dibuktikan, maka caleg tersebut akan tersangkut pasal 280 ayat 1 Undang-Undang Pemilu yang berlaku di Indonesia, yakni mengenai larangan dalam kampanye yang harus ditaati oleh pelaksana, peserta, dan jgua tim kampanye. Dalam salah satu poin disebutkan bahwa tim kampanye pemilu dan orang terkait yang mengikuti pemilu dilarang untuk menjanjikan atau memberikan uang dan benda lainnya kepada masyarakat.

Pemberian genset ini sendiri sebenarnya  merupakan pilihan yang baik karena genset sendiri dibutuhkan di daerah pedesaan untuk menghasilkan listrik lebih banyak dan harga genset juga tidak murah. Namun cara yang dilakukan caleg terkait tentu sangat keliru karena pemberian genset tersebut ditujukan untuk menjaring lebih banyak pendukung.

Selama ini genset  memang banyak digunakan untuk memperlancar aktivitas sehari-hari. Di daerah yang belum ada pasokan listrik misalnya, genset menjadi sumber energi listrik untuk penerangan dan komunikasi, serta berbagai hal lainnya yang mempermudah kehidupan. Sedangkan jika di daerah yang sering terjadi pemadaman, listrik ini juga sangat bermanfaat untuk menggantikan energi listrik yang tiada.

Tapi jangan dipikir kalau genset hanya dibutuhkan di pedesaan atau di daerah terpencil. Di perkotaan pun genset sangat dibutuhkan terutama di bangunan publik seperti rumah sakit. Coba bayangkan, di rumah sakit setiap harinya ada banyak sekali alat yang terhubung dengan listrik dan sangat menentukan nyawa para pasien. Jika terjadi pemadaman dan tak ada genset, maka nyawa sekian banyak pasien akan berada dalam bahaya. Kemudian selain rumah sakit, ada banyak juga tempat yang membutuhkan genset seperti perkantoran, sekolah, hotel, sampai dengan restoran. Tanpa adanya listrik, pelayanan di tempat-tempat tersebut tentu akan terganggu dan menyebabkan masalah pada aktivitas sehari-hari kebanyakan orang.

Write a Reply or Comment