UPGRIS dan UII Berkolaborasi Kembangkan Genset Tenaga Surya

genset tenaga surya
ilustrasi

Mungkin selama ini kita hanya mengenal atau mengetahui bahwa genset itu adalah suatu mesin yang dapat menghasilkan energi listrik dengan bahan bakar dari bensin ataupun solar. Namun baru-baru ini ada sebuah penemuan baru yang dikembangkan oleh para ilmuwan dari Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) dan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yaitu genset yang bertenagakan energi matahari alias tenaga surya (GTS).

Dikarenakan sumber tenaganya berasal dari matahari yang tidak pernah habis saking besar dan banyaknya, maka genset tersebut sangat ramah lingkungan dan tidak menjadi media penghasil polusi, baik udara ataupun suara.

Dan setelah mesin genset bertenaga surya ini selesai dikembangkan dan sukses diujicobakan, UPGRIS dan UII kemudian menyerahkannya ke 3 dusun yang terkena dampak langsung dari erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010 lalu, yaitu Dusun Gungan, Dusun Cakran dan Dusun Ngepringan di Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Jawa tengah.

Dalam penyerahan GTS secara simbolis ke perwakilan dari 3 dusun tersebut disaksikan pula oleh perwakilan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI.

Ketua Tim UPGRIS Dr Achmad Buchori menjelaskan bahwa GTS yang merupakan hasil dari kerja sama dua universitas tersebut sangat ramah lingkungan karena tidak membutuhkan bahan bakar minyak sama sekali seperti yang digunakan oleh genset pada umumnya.

Dan dengan hanya menggunakan tenaga matahari, maka masyarakat yang menggunakan tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk membeli bahan bakarnya. Adapun uang yang dikeluarkan hanyalah sebagai biaya perawatannya saja.

Achmad juga menjelaskan jika GTS yang tercipta mampu menyimpan energi dari matahari dalam jumlah besar yang mana kemudian dapat dikonversi menjadi energi listrik. Energi listrik dari matahari tersebut mampu menghasilkan daya sebesar 220 volt. Bagian utama di dalam GTS tersebut adalah terdapatnya sebuah aki yang berfungsi untuk menyimpan energi listrik yang berhasil dikonversikan. Kapasitas aki tersebut adalah mencapai 1.200 wph.

Dalam penjelasannya, Achmad menuturkan bahwa untuk mengembangkan alat tersebut, digunakan program dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Kemenristekdikti RI Tahun 2018 yaitu Program Penerapan Teknologi Tepat Guna kepada Masyarakat (PPTTG).

Walaupun listrik dari PLN telah kembali masuk ke daerah-daerah tersebut, namun sebagai energi alternatif, terutama ketika terjadi pemadaman, maka GTS itu dapat digunakan sebagai media dalam atasi kebutuhan energi listrik masyarakat sehingga kegiatan ekonomi kreatif dan juga aktivitas sehari-hari dapat tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Terkait dengan pemberian GTS tersebut ke 3 dusun yang telah terkena imbas dari erupsi itu, Robbi Prayudha selaku Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dari Kemenristekdikti memberikan apresiasi tinggi. Robbi menganggap bahwa apa yang telah dikerjakan dan menghasilkan GTS itu sebagai bentuk dari penelitian para ilmuwan di perguruan tinggi atau lembaga litbang yang mana kemudian secara langsung dapat diaplikasikan ke masyarakat.

Setelah diserahkan, nantinya 3 genset tersebut akan dipasangkan di lokasi-lokasi yang berbeda dan penetapannya ditentukan oleh Kepala Desa dan Sekretaris Desa setempat. Diharapkan juga setelah terciptanya GTS tersebut nantinya akan menjadi pelopor kemitraan antara satu universitas dengan universitas lain agar dapat menciptakan sesuatu yang tepat guna dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Memang sangat berguna serta tepat sasaran apa yang dikembangkan oleh kedua universitas tersebut, terutama bagi warga di 3 dusun itu. Namun bagi Anda yang ingin membeli genset murah, maka ABC Power adalah tempat yang sangat tepat untuk dijadikan rujukannya.

Write a Reply or Comment