PDAM Maros Rugi Rp104 Juta Karena Tidak Ada Genset Saat Listrik Mati

listrik mati dan tidak punya genset
ilustrasi

Pertengahan bulan November 2018 kemarin, terjadi pemadaman listrik yang cukup lama, yaitu dari pukul 09.00 sampai dengan 15.00 WITA di Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan oleh PLN Rayon Maros. Pihak PLN sendiri mengatakan bahwa pemadaman tersebut terpaksa dilakukan karena ingin memperbaiki kekuatan dari jaringan listrik agar mampu mencapai rumah warga dengan tepat.

Dikarenakan pemadaman tersebut, tak tanggung-tanggung ada ratusan atau mungkin ribuan orang yang mengerima imbasnya. Lokasi dari pemadaman itu sendiri antara lain Bontoa, Boloasi, Tengkuru, Bonto-bonto, Bonto Bahari, Lalang Tedong, Pajjukulang Binanga Sangkara, Kassi Jala, Panjallingan, Pattalassang, Cambayya, Minasaupa dan beberapa daerah lain sekitarnya.

Selaku manager PLN Rayon Maros, Daen Madika meminta maaf kepada semua pihak atas pemadaman listrik yang dilakukan tersebut. Daen berjanji bahwa pihaknya akan segera menormalkan kembali jaringan listrik ketika perbaikan telah selesai dilakukan .

Tidak hanya meminta maaf dan juga mengharapkan dukungan dari warga sekitar Maros, Daen juga menjelaskan kenapa terjadi pemadaman yang cukup lama di daerah tersebut. Dalam penjelasannya, Daen mengatakan bahwa ada pemindahan JTM dari tempat awalnya ke tiang beton yang baru saja dibangun. Untuk melakukannya dibutuhkan waktu yang relatif lama karena memang prosesnya tidak sebentar.

Terkait dengan pemadaman tersebut, ternyata ada pihak yang dirugikan sangat besar atau mencapai Rp104 juta selama 2 hari atau Rp52 juta per harinya, yaitu PDAM Maros. Menurut Direktur PDAM Maros, Abdul Baddar, pihak merugi sampai puluhan juta Rupiah karena pemadaman listrik tersebut.

Kerugian tersebut terjadi karena pihak PDAM tidak dapat mendistribusikan air ke sekitar 14 ribu pelanggan mereka di banyak kecamatan di Maros. Pasalnya, untuk dapat memompa air yang akhirnya dapat didistribusikan dengan segera ke rumah-rumah warga, dibutuhkan pasokan listrik yang besar, sedangkan pihak PDAM Maros sendiri memang memiliki mesin genset, namun daya yang dimiliki hanya 80 kilovolt ampere atau (KVA), padahal yang dibutuhkan adalah 350 KVA.

Selain itu, menurut Abdul Baddar, masalah lain yang bakal timbul karena terjadinya pemadaman dengan durasi waktu yang sangat lama tersebut adalah mengganggu Instalasi Pengolahan Air yang terletak di Bantimurung dan Tanralili. Abdul Baddar juga menyebutkan bahwa selama ini banyak warga Maros yang masih mendandalkan distribusi air dari Bendungan Bantimurung serta Tanralili itu. Dengan terganggunya pendistribusian air bersih itu, maka tidak sedikit penduduk Maros yang kesulitan untuk mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-harinya.

Dan ternyata bukan satu kali ini saja di daerah Maros, tepatnya di Kecamatan Bontoa dan Bantimurung mengalami pemadaman listrik oleh PLN. Pada akhir tahun 2017 kemarin juga sempat ada pemadaman listrik di kedua kecamatan tersebut selama kurang lebih 2 jam lamanya atau dari pukul 13.00 sampai 15.00 WITA.

Dikarenakan hal itulah, untuk warga dibutuhkan genset standar untuk dapat dijadikan sumber tenaga listrik banyak perangkat elektronik, sedangkan untuk perusahaan, maka yang dibutuhkan adalah genset yang memiliki tenaga besar. Bagi warga umum sendiri, genset dapat digunakan agar aktivitas keseharian tetap dapat dilakukan secara normal, terutama mencharge perangkat elektronik dan lain-lain. Sedangkan bagi perusahaan, genset dengan daya besar agar dapat menghasilkan energi listrik yang kuat untuk melakukan proses produksi.

Dan khususnya untuk genset-genset standar seperti pada umumnya, di ABC Power jual genset silent dan juga jual genset lain dengan tipe, kualitas, kekuatan dan model yang berbeda-beda.

Write a Reply or Comment